BEKERJA SESUAI DENGAN HATI NURANI

SULISTIONO. Pria lajang kelahiran Klaten Jawa Tengah yang satu ini tidaklah asing di lingkungan Pemkot Yogyakarta Dari Walikota sampai pejabat dan juga staf mungkin pernah diinterogasi ame pemuda yang sekilas mirip aktor Mandarin ini. Dengan penampilan yang rapih dan dandanan rambut yang selalu direbounding pria ramah ini setiap hari pasti kelihatan wira wiri di Balaikota. Bukannya, beliau salah seorang seksi sibuk di Pemkot Jogja tetapi memang kewirawiriannya ada kaitan dengan tugas yang diembannya sebagai tukang kuli disket alias Wartawan. Walau kehadirannya di lingkungan Pemkot Jogja masih tergolong masih muda , namun oleh teman-temannya, dirinya didapuk untuk menjadi Ketua Paguyuban Wartawan Kota (PAWARTA) yang kesekretariatannya berada di lingkungan Balaikota.

Wah, jadi tambah lagi deh kesibukan pemuda yang mengaku paling hobi membaca dan bertualang ini.  Ah.. nggak juga. Tugas ini kan tidak terlalu berat Setiap hari harikan saya selalu dibantu teman-teman. Dan tugas itukan lebih bersifat koordinatif. , kilah dia. Ketika jogja.go.id, berbincang-bincang dengan pria lajang yang akrab disapa Sulis Media tentang dirinya dan profesi yang digelutinya sekarang., banyak hal mengalir dari dirinya. Nah, untuk lebih dekat dan mengenal Sang Ketua Pawarta ini, ada baiknya simak perbincangan berikut : Kenapa pilih pekerjaan wartawan -apa yang menjadi profesi saya ini bukanlah sebuah cita-cita. Tetapi, keinginan untuk menjadi wartawan sudah muncul dalam benak saya sejak saya duduk di bangku SD. Bagi saya, pilihan profesi wartawan adalah strategi untuk meraih apa yang saya cita dan cintakan.

Yakni ingin menjadi orang yang bisa berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. - Setelah saya mengenal dunia pers yang salah satu fungsinya sebagai kontrol terhadap kekuasaan, menyiarkan fenomena fakta terkait dengan berbagai sektor baik masalah sisial, politik, budaya, pendidikan dan banyak hal lain yang bisa dimasukki oleh insan pers membuat keinginan saya untuk memilih profesi jurnalis sebagai strategi menjadi dimantabkan. Sejak kapan anda memulai aktivitas untuk bisa menjadi wartawan saya menemukan dunia saya ini adalah suatu kebetulan. Dan suatu kebetulan itu saya dapatkan ketika saya menempuh kuliah di Universitas Brawijaya Malang. Tepatnya pada semester kedua, tahun pertama saya kuliah. Semula saya mengikuti kegiatan seni pencak silat. Namun, aktivitas seni pencak silat itu saya tinggalkanketika saya mengetahui ada rekruitmen anggota sebuah unit pers mahasiswa, yaitu Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa Universitas Brawijaya.

Dari situlah saya memulai mengembangkan harapan-harapan saya yang telah terpendam sejak kecil. Kemudian, melalui proses belajar jurnalistik dan mengikuti berbagai gerakan mahasiswa pers kampus, kemantaban saya untuk bisa merasakan profesi wartawan semakin nyata. -Ketika itu berbagai kegiatan pers mahasiswa saya ikuti. Mulai dari tingkat kampus hingga saya ikut sebagai Dewan Pers Kampus. Kemudian saya juga mengikuti gerakan pers mahasiswa di tingkat lokal dengan bergabung dengan Persatuan Pers Mahasiswa Malang, dan akhirnya saya juga terlibat dalam gerakan pers mahasiswa tingkat nasional, yaitu Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia. Sampai akhirnya saya lulus langsung bisa diterima di salah satu koran harian kriminal di jawa tengah. Di mana sebelumnya (sewaktu saya kuliah) juga pernah mencicipi profesi wartawan di sebuah tabloid budaya di malang, namun ketika itu tidak bisa bertahan lama lantaran keberadaan tabloid tersebut tidak bisa berkembang baik.

Jadi, terpaksa saya harus rela melepas profesi wartawan profesional ketika itu. Setelah kurang lebioh tiga bulan di harian kriminal itu saya diberi kesempatan untuk bergabung dengan Media Indonesia sampai sekarang. Di Media Indonesia, saya hampir tiga tahun. Apakah strategi profesi (wartawan) sesuai dengan harapan? Belum. Apa yang saya rasakan belum bisa mendongkrak apa yang ingin saya cita dan contakan. Karena, ap[a yang saya lakukan sangat banyak batasan. Yakni apa yang saya tulis belum ada jaminan kalau bisa termuat di media tempat saya bekerja. Di sinilah mungkin ada sebuah persaingan. Bisa saja berita yang saya tulis kurang berkualitas sehingga kalah bersaing dengan isu di daerah lain. Sehingga, profesi ini sampai sekarang saya masih menganggap sebagai proses belajar. Proses yang tidak saya ketahui sampai kapan proses belajar ini berkahir. Yang jelas selama saya masih bernapas saya ingin terus belajar untuk meraih apa yang saya cita dan cintakan.

Bila Tuhan belum bisa merengabulkan harapan dan impian saya di dunia, siapa tahu tuhan memberi kesempatan di akhirat, he..he.. Apa yang anda inginkan dari pemerintah jogja ketika anda bertugas di sini. Tidak ada keinginan lain selain transparansi informasi. Di mana sebuah transparansi informasi di sebuah birokrasi pemerintah baik yang duduk di eksekutif dan legislatin serta intasnsi lain masih tertutup. Seakan-akan wartawan adalah preman yang layak dimusuhi dan ditakuti. Walaupun ada juga pejabat yang sangat terbuka dengan wartawan. Itu pun sangat sedikit. Tidak mencapai lima persen. Apa yang selama ini anda tahu, pemerintah yogyakarta sudah bagus dalam melaksanakan tugasnya? Ha..ha..ha.. dari mana kita melihatnya dulu. Kalau dari program-program yang didengungkan mungkin bisa dikatakan lumayan. Namun, dalam kenyataan dilapangan pantas kita sebut masih perlu keseriusan. Apa yang menjadi kendala terlaksananya program dengan baik menurut anda?

Mungkin di sinilah arti sebuah birokrasi.Pada satu sisi birokrasi diperlukan. Namun, di sisi lain birokrasi menjadi hampatan yang memprihatinkan. Karena apa yang seharusnya cepat justru menjadi lamban. Kita mungkin tidak tahu kenapa menjadi lamban. Mungkin saja ada yang ingin mencari kesempatan finansial dalam sebuah birokrasi itu. Itu bisa saja terjadi��. Kalau memang mereka bekerja sesuai hati nurani,,.. demi rakyatnya maka semuanya tidak harus menjadi lamban. Boleh agak sedikit lamban. Tetapi jangan terlalu lamban. Yah..itulah sedikit komentar dari pemuda Lulusan Universitas Brawijaya Malang � Jawa Timur ini, mudah-mudahan dapat menjadi bahan renungan dan masukan yang positip untuk menjadikan segala sesuatu menjadi lebih sederhana. Wah, kok cocok dengan dengan motto hidupnya ya.. Motto : �menjadikan segala sesuatu menjadi lebih sederhana. (@mix)