PERESMIAN SLB G/A-B HELEN KELLER INDONESIA

Kehadiran anak-anak berkelainan ganda ditengah keluarga bukanlah aib bagi
melainkan merupakan sebuah batu ujian cinta kasih bagi keluarga itu,
begitu pula kehadiran anak berkelainan di masyarakat bukanlah beban
melainkan sebuah tantangan. Demikian disampaikan Sr Antonie Ardatin, PMY
dari Yayasan Dena Upakara yang mengelola Sekolah Luar Biasa (SLB) G/AB
Helen Keller yang diresmikan Kamis (14/2) di Kampung Singosaren,
Wirobrajan Yogyakarta.
”Kehadiran anak berkelainan ganda di keluarga bukan aib, tetapi sebuah
ujian cinta kasih, dan keberadaan di masyarakat merupakan tantangan untuk
mencari sebab serta mengatasinya dengan mengerahkan akal budi dan tenaga
untuk membawa anak-anak cacat itu maju” kata Sr Antonie
Bangunan Sekolah dan asrama SLB G/A-B Helen Keller ini diresmikan oleh
Asisen Fasilitasi dan Investasi Sekda Prop DIY Dra Suhartuti Soetopo
mewakili Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Ditandai dengan
penandatangan prasasti.
Bangunan sekolah yang menghabiskan Rp 2,1 miliar, diatas tanah seluas
1.139 meter persegi dan berlokasi di Jl RE Martadinata 88 A Wirobrajan
Yogyakarta itu merupakan pengembangan dari SLB Dena Upakara yang mendidik
anak tunarungu di Wonosobo, Jawa Tengah.
Ditambahkan oleh Sr Antonie Ardatin, selama ini pihaknya memiliki
pengalaman 70 tahun mengelola pendidikan bagi penyandang cacat tuna rungu
di Wonosobo. Pendirian SLB Helen Keller di Yogyakarta ini merupakan
pengembangan pendidikan untuk penyandang tuna ganda : tuna rungu-tuna
netra, tuna rungu-low vision dan tuna rungu-tuna wicara.
Pemilihan lokasi di Yogyakarta dipertimbangkan dari banyaknya Perguruan
tinggi yang memiliki program Pengabdian Kepada Masyarakat, dan akan
dikembangkan kerjasama dengan PT untuk pengembangan pendidikan anak
berkelainan ganda tersebut.
“Di Yogyakarta banyak sekali perguruan tinggi dan perguruan tinggi
memiliki program pengabdian masyarakat. Berdirinya sekolah luar biasa ini
kita juga ingin mengajak kerjasama dalam mengembangkan pendidikan yang
berkelainan yang sangat membutuhkan uluran tangan kita bersama,” katanya.
Lebih lanjut disampaikan selesasi pembangunan gedung dan asrama SLB G/A-B
Helen Keller ini karena Banyak dukungan yang peroleh dari berbagai pihak,
baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Segala sesuatunya sudah kita
persiapkan sejak awal, yaitu persiapan tenaga pendidik hingga pembangunan
fisik gedung sekolah ini.
Dikatakan, nama SLB Helen Keller Indonesia diambil dari sejarah anak yang
menderita buta-tuli asal Amerika, yang berhasil memperoleh gelar
kesarjanaan di bidang ilmu bahasa dan menjadi penulis berkat ketekunannya,
dibawah bimbingan gurunya, Anne Sulivan, yang juga menderita low-vision.
“Betapa pentingnya peran guru bagi Helen Keller hingga dia meraih gelar
sarjanan sekitar tahun 1904. Kisahnya begitu menarik, pantang menyerah dan
berjuang menggapai dunia dalam keterbatasannya sebagai orang cacat,”
ceritanya.