PERINGATAN SO 1 MARET, JOGJA KEMBALI BERSEPEDA

Peristiwa heroik 60 tahun lalu, 1 Maret 1949, seolah terulang kembali. Berbagai unsur yang merasakan langsung peristiwa tersebut maupun generasi penerus berkumpul di monument SO 1 Maret untuk bersama-sama mengenang kembali peristiwa bersejarah bagi perjalanan bangsa Indonesia.

Peringatan Serangan Oemoem 1 Maret 1949 dipusatkan di monumen SO 1 Maret kawasan nol kilometer Yogyakarta, Minggu pagi (01/03). Upacara peringatan dipimpin oleh Walikota Yogyakarta Herry Zudianto yang diikuti oleh pelajar, mahasiswa, karyawan, purnawirawan TNI/Polri, dan pelaku sejarah anggota paguyuban Werkhreise III, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.

Walikota dalam sambutannya mengatakan, Peringatan ke-60 tahun SO 1 Maret, menjadi momentum yang sangat tepat untuk merefleksikan makna perjuangan Serangan Oemoem dan membangkitkan semangat cinta tanah air dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sekaligus membangkitkan kesadaran bahwa orientasi demi kepentingan bangsa lebih utama dari orientasi kepentingan pribadi atau golongan.

“Untuk itu melalui peringatan ini diharapkan dapat menggugah rasa nasionalisme, mencintai Kota Yogyakarta dan Indonesia sebagai penghormatan atas perjuangan para pahlawan bangsa, selain itu diharapkan juga dapat menginspirasi masyarakat Kota Yogyakarta dalam menghadapi masa depan untuk membangun dan memajukan bangsa,” ujar Walikota.

Ditandaskan oleh Walikota, Jiwa dan semangat patriotisme para kusuma bangsa hendaknya juga dimiliki oleh generasi muda penerus bangsa. Patriotisme saat ini bukan untuk berkorban di medan perang seperti pada jaman perjuangan kemerdekaan, tetapi lebih pada cinta dan loyalitas kepada tanah air dalam semua rasa, karsa dan karya sesuai dengan tantangan jaman dan peradaban.

Sementara, Ketua paguyuban Werkhreise III, Mayjen (purn) Sukoco Cokroadmojo berharap kepada para pengelola negara agar bisa menjadikan Negara Indonesia menjadi negara yang adil makmur. “Saya titip, buatlah negara kita mandiri dalam ekonomi dan politik. Hilangkan segala ketergantungan dengan bangsa lain, dan buatlah rakyat cerdas,” ungkapnya.

Enam puluh  tahun berlalu, kini 1 Maret 2009 Kota Yogyakarta kembali diserang dari oleh ribuan pesepeda dari 4 penjuru, sektor selatan, sektor barat, sektor utara dan sektor timur menuju kawasan nol kilometer (depan monument SO 1 Maret). Serangan sepeda dari kelompok pesepeda Sego Segawe, dan masyarakat lainnya merupakan bagian dari peringatan SO 1 Maret. Tepat usai upacara, ribuan pesepeda tersebut berhasil menduduki kawasan nol kilometer.

Dalam orasi ‘Jogja Kembali Bersepeda’ itu Walikota mengatakan, Yogyakarta adalah Kota Perjuangan, Perjuangan bukan hanya milik masa lalu, namun masa kini juga berada dalam masa perjuangan. Tantangan yang sangat dekat adalah kualitas lingkungan, Telah terjadi pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim, akibatnya temperatur udara di permukaan bumi semakin panas termasuk juga di Kota Jogja. “Bumi semakin panas jangan hanya kipas-kipas,wong Jogja harus berjuang, karena ini kota perjuangan,” ujar Walikota.

“Tindakan membiasakan diri bersepeda merupakan tindakan sederhana namun bijaksana untuk lingkungan dan masa depan. Jangan anggap enteng sepeda, karena dia menjadi bagian dari solusi problematik kota. Selain ramah lingkungan, hemat energi, dengan bersepeda membuat raga menjadi bugar dan menumbuhkan jiwa kesederhanaan.empati terhadap yang lemah serta pembelajaran diri agar menjadikan pribadi yang berkarakter tidak mudah menyerah guna mencapai tujuan,” paparnya. (ism&tim)