Kota Yogya IPM Tertinggi Nasional, Modal untuk Pembangunan Berkelanjutan

Umbulharjo – Kota Yogyakarta masih menyandang predikat kota dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tertinggi nasional selama 13 tahun terakhir. Pada tahun 2023 berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) IPM Kota Yogyakarta berada pada angka 88,61 yang masuk kategori sangat tingggi.


Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogya, Agus Tri Haryono mengatakan raihan IPM di tahun 2023 berada di atas Banda Aceh dan Jakarta Selatan yang menempati ranking 2 dan 3.

“Untuk tahun 2022 IPM Kota Yogya berada di angka 88, kemudian di tahun 2023 mengalami kenaikan 0,61 sehingga mencapai 88,61 yang mana masuk kategori sangat tinggi dan terbaik nasional, serta lebih tinggi dibandingkan dengan DIY sebesar 81,09,” terangnya pada minggu lalu saat lakukan paparan rancangan awal RPJPD di Kompleks Balai Kota.

Pihaknya mengatakan kenaikan IPM Kota Yogya di tahun 2023 pada dasarnya dipengaruhi oleh peningkatan beberapa aspek yang menjadi indikator dalam capaian IPM. Aspek tersebut adalah harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah, usia harapan hidup dan pengeluaran riil per kapita.

“IPM itu menggambarkan bagaimana penduduk di suatu daerah dapat mengakses pembangunan, layanan kesehatan dan pendidikan, serta memperoleh pendapatan untuk hidup yang layak. Tentu ketika IPM itu baik maka ini menjadi satu keunggulan dan modal baik untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.

Peningkatan IPM juga dipengaruhi oleh usia harapan hidup di Kota Yogya yang mencapai 75,52 tahun setelah di tahun 2022 berada di angka 74,76 tahun, tambah Agus. Selain itu angka harapan lama sekolah mencapai 17,62 tahun dan rata-rata lama sekolah warga Kota Yogya selama 12,11 tahun.

"Naiknya usia harapan hidup menggambarkan tingkat kesejahteraan dan derajat kesehatan penduduk Kota Yogya semakin meningkat. Kualitas kesehatan semakin baik dan semakin mudah diakses. Kemudian untuk harapan dan rata-rata lama sekolah menjadi bukti iklim pendidikan yang baik, didukung dengan sarana dan prasarana yang memadahi,” tambahnya.

Seiring kenaikan IPM, lanjut Agus tapi masih ada tantangan yang dihadapi Kota Yogya yaitu peningkatan jumlah penduduk lanjut usia 65 tahun ke atas karena meningkatnya usia harapan hidup. Di mana hal tersebut nantinya juga akan berdampak pada potensi beban ketergantungan.

“Berdasarkan kajian grand design pembangunan kependudukan Kota Yogyakarta 2025-2045, akan terjadi peningkatan jumlah lansia seiring meningkatnya usia harapan hidup. Ini menjadi pekerjaan bersama bagaimana membuat program untuk mendorong pertumbuhan penduduk seimbang. Baik didukung dengan optimalisasi layanan juga sarana prasana yang sudah ada, maupun penambahannya nanti,” imbuhnya.

Salah satu program peningkatan kesejahteraan lansia di Kota Yogya, dijelaskan oleh Penjabat Wali Kota Yogyakarta Singgih Raharjo pada beberapa waktu lalu adalah melalui pengembangan Layanan Lansia Terintegrasi (LLT) tingkat kelurahan.

“LLT adalah layanan menyeluruh yang berfungsi untuk menghubungkan kebutuhan layanan lansia dengan penyedia layanan. LLT mencakup layanan kesehatan, sosial, ekonomi yang disesuaikan dengan kebutuhan lansia,” jelasnya.

Berdasarkan Keputusan Wali Kota Yogyakarta Nomor 248 Tahun 2022 tentang Penunjukan Kelurahan Pelaksanaan LLT, ditunjuk tiga kelurahan yang menjadi proyek percontohan yaitu Kelurahan Gedongkiwo, Baciro dan Purbayan. (Jul)