Menghargai Perbedaan Merajut Kebersamaan

Umbulharjo - Fajar menyingsing, cuaca cerah serta sinar matahari menerpa, menyambut hangat datangnya Hari Raya Idul Fitri tahun 1445 Hijriah / 2024 M.  Kurang lebih 3000 jamaah, tua muda, dengan wajah berseri-seri, yang laki-laki mengenakan baju koko, sarung dan peci, yang wanita memakai busana muslimah, berbondong-bondong datang mengikuti Sholat Id, yang dilaksanakan di Balaikota Yogyakarta, pada hari Rabu (10/4). 

Perayaan Idul Fitri merupakan wujud rasa syukur segenap umat Islam serta sebagai simbol kemenangan, setelah berhasil mengendalikan diri terhadap hawa nafsu segala godaan dan pantangan. Ibadah puasa pada hakekatnya melatih manusia melakukan pengendalian diri mengembangkan sikap saling menghargai, sebagai upaya membangun tatanan masyarakat yang lebih baik, di mana puasa mengajarkan kesabaran, ketelatenan, sikap menahan diri dan tepo seliro, meredam nafsu amarah, dendam dan saling memaafkan satu sama lain.
  
Penjabat Wali Kota Singgih Raharjo tampil di mimbar sebagai Khatib membawakan khutbah bertajuk “Menghargai Perbedaan Merajut Kebersamaan”. Dalam ceramahnya, Singgih menekankan penting kesadaran berbangsa dan bernegara, di mana Indonesia memiliki realitas kemajemukan suku, agama, budaya dan bahasa yang semuanya bersatu dalam ke-Bhinneka Tunggal Ika-an. 

"Dengan  jumlah 300 suku bangsa dan 700 bahasa daerah, para founding fathers bangsa telah berjuang untuk membangun kemajemukan tersebut menjadi sebuah kekuatan. Bahkan, kemajemukan bangsa Indonesia itu sendiri sesungguhnya merupakan sunnatullah yang bukan untuk dihindari, tetapi menjadi keberagaman warna-warni bangsa dan negara yang harmoni, " ujarnya. 

Kota Yogyakarta memiliki predikat sebagai kota pendidikan, multi kultural dan city of tolerance. Semangat kesatuan toleransi dalam keberagaman ini yang harus ditata menjadi energi positif dalam proses pembangunan. Untuk itu penting bagi masyarakat dapat mengembangkan budaya dialog sinergi positif antar warga, mengembangkan sifat positive thinking, berbaik sangka atau husnudzon, mengembangkan sikap budaya tepo seliro, serta mengembangkan sikap Segoro Amarto (Semangat Gotong Royong agawe majuning Ngayogyokarto). 

Selain itu Singgih juga mengapresiasi partisipasi masyarakat atas terselenggaranya Pemilu Serentak 2024 yang lalu dengan lancar. Situasi kondusif di Kota Yogyakarta menjadi modal sosial yang penting dalam nantinya menyambut pelaksanaan Pemilihan Wali Kota / Wakil Wali Kota pada bulan November 2024 mendatang, untuk memilih Kepala Daerah Kota Yogyakarta, yang amanah, legitimate dan didukung penuh oleh masyarakat.

Sementara Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Nadhif, menjelaskan ada kurang lebih 131 titik penyelenggaraan Salat Idul Fitri, tersebar di 14 Kemantren di Kota Yogyakarta, yaitu di masjid, mushola dan lapangan fasilitas umum dan sosial.

"Harapannya tempat-tempat tersebut mampu menampung jamaah yang hendak menunaikan salat, di mana pada masa libur Lebaran, diperkirakan jumlah jamaah meningkat. Ini karena Kota Jogja dikunjungi banyak pemudik, yang hendak bersilaturahmi dengan orangtua, keluarga besar handai taulan masing-masing," jelasnya.

Salah satu pengunjung, Septi Ernawati, menyatakan ia senang dapat melakukan Salat Id di Balaikota bersama adiknya, karena tahun ini ia belum bisa pulang ke daerahnya di Lampung. Selain ia mau menyelesaikan studinya lebih dulu di salah satu universitas swasta, ia juga kehabisan tiket pulang dan biaya tiket kendaraan umum sedang tinggi-tingginya. Ia menyimpan harapan semoga bisa menengok kampung halaman kalau nantinya ada kesempatan untuk pulang setelah Hari Raya. (fra)