LURIK JOGJA SEMAKIN DILIRIK

 

            Jogja, sebuah kota yang selalu dikaitkan dengan kreativitas budayanya yang tiada henti. Sentra industri kerajinan Jogja terus berinovasi menyajikan karyanya namun tetap mempertahankan identitas Jogjanya. Salah satunya adalah sentra industri ‘Tenun Sutera Alam Tugu Mas’ milik Endro Kuswardjo warga Joyonegaran MG II/942 Yogyakarta yang konsen dibidang kain tenun bermotif lurik.

            Pria alumni UPN Ekonomi ini sebelumnya adalah seorang buruh pertambakan bibit udang di Makasar dan tahun 2005 memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dengan membuat usaha batik cap, namun ia merasa bahwa pengrajin batik cap sudah terlalu banyak maka ia menggeser sedikit arah usahanya menjadi penenun benang sutera bermotif lurik. Dengan bahan benang sutera yang harganya relatif mahal Endro sengaja membidik mangsa pasar kelas atas.

            Adalah GKR Hemas yanngn mengingatkan Endro agar memperhatikan pasar kelas bawah juga agar lurik dapat semakin popular di setiap kalangan. “Pesan Ibu Ratu langsung saya respon dengan memproduksi kain tenun berbahan katun yang terjangkau oleh siapapun. Dan ternyata benar, saat ini minat masyarakat menggunakan kain tenun katun terus meningkat terlihat dari pesanan yang juga meningkat”, jelas Endro.

            Lurik Endro sangat khas dalam motif lurik karena fokus pada motif khas Keraton Yogyakarta dan saat ini Endro menjadi satu- satunya pengrajin lurik motif khas Keraton Yogyakarta yang masih bertahan. Endro mempertahankan kwalitas dan selalu berinovasi mengembangkan corak- corak yang semakin dinamis dan tidak dibuat dalam partai besar, sehingga bisa dikatakan limited dan eksclusive.

            Untuk menghasilkan kain tenun berkwalitas super Endro masih menggunakan peralatan tradisional yang dikerjakan secara manual oleh para tetangganya yang berjumlah 29 penenun. Pemasaran kain tenun ini tidak hanya di dalam kota Yogyakarta saja melainkan beliau sudah mengekspor ke berbagai Negara seperti Jepang, Belanda, Suriname dan Ceko, warga Negara asing sangat tertarik dengan kain tenun tradisional hand made.

Linda Caplanova adalah seorang desainer asal Ceko yang sangat tertarik dengan kain lurik buatan Endro Kuswardjo,  ia mengaku bahwa kain ini sangat unik dan diminati di negaranya namun sangat susah ditemukan di Ceko sehingga  ia harus jauh-jauh mencari kain tenun sampai ke Yogyakarta. Motif yang berwarna-warni membuat kain lurik ini mulai disukai oleh banyak orang, hal tersebut dibuktikan dengan omset yang selalu meningkat dari tahun ke tahun.

 Tekad kuat dan usaha yang gigih telah menghantarkan Endro Kuswarjo sebagai satu- satunya pengrajin lurik di Jogja yang sukses mempoluerkan kembali lurik sebagai pakaian khas Jogja. (And)