Dalam rangka Pekan Pengurangan Resiko Bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta menggelar simulasi gempa sebagai kesiapan untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam menghadapi Gempa di Gedug Pandawa (07/11).

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Budi Purwono mengatakan, simulasi ini memberikan pemahaman kepada ASN, bahwa gempa dapat terjadi secara tiba-tiba dan tidak dapat diprediksi sebelumnya.

“Bencana dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Begitu juga dengan gempa, kita tidak dapat memprediksinya kapan dan dimana akan terjadi. Tetapi melalui simulasi ini, kita berharap orang akan memiliki kesiapan, apa saja yang akan dilakukan saat gempa tersebut terjadi” ujarnya.

Budi Purwono juga mengatakan, melihat dari beberapa gempa yang sudah terjadi, orang akan merasa panik dan memilih untuk berlari keluar gedung. Seharusnya, yang dilakukan pertama adalah mencari tempat perlindungan disekitar ruangan sampai gempa itu usai.

“Kebanyakan orang, saat gempa terjadi orang akan merasa panic, sehingga mereka berlari mencari jalan keluar. Seharusnya, yang dilakukan pertama adalah mencari tempat perlindungan di tiang yang kokoh maupun benda yang kokoh, seperti meja, lemari  dan benda lainnya yang dapat menahan benturan”. Ujarnya.

Simulasi gempa ini dimulai dengan getaran gempa melalui suara yang diperdengarkan di dalam gedung. Kemudian rombongan ASN mencari tempat di sekitar gedung untuk tempat perlindungan sementara. tidak sedikit dari mereka yang memilih untuk lari. Setelah gempa usai, ASN berjalan keluar untuk berkumpul di tempat terbuka.

Setalah itu, Tim dari BPBD memeriksa gedung dan Tim kesehatan bersiap di lokasi kejadian dengan mobil ambulance.

Dalam evaluasinya, Budi Purwono menyampaikan masih terdapat ASN yang memilih untuk berlari dibandingkan mencari tempat berlindung di sekitar ruangan.

“Melihat dari proses simulasi gempa tadi, sudah banyak orang yang sadar untuk memilih tempat perlindungan seperti mencari tiang yang kokoh untuk berlindung. Tetapi tidak sedikit juga yang langsung berlari keluar ruangan. Padahal itu  yang membahayakan, karena saat gempa posisi tubuh tidak dapat berdiri stabil, sehingga saat orang berlari, kemungkinan dari mereka akan terjatuh” ungkapnya.

Di akhir simulasi, ia menghimbau kepada ASN untuk bersiap setiap saat, karena gempa terjadi secara tiba-tiba dan kita tidak dapat  memprediksinya. Lebih lanjut, ia mengatakan di beberapa gedung di Pemerintah Kota Yogyakarta masih kurangnya rambu-rambu evakuasi, seperti keterangan jalur evakuasi hingga tempat untuk titik berkumpul. (Hes/Fai)