14 unit rumah tidak layak huni (RTLH) di Kelurahan Purwokinanti, Kecamatan Pakualaman akan direnovasi. Hal tersebut dilakukan melalui program Kolaborasi Pemerintah Kota Yogyakarta dalam Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) bersama pihak PT Sarana Multigriya Finansial (SMF).

Camat Pakualaman, Rajwan Taufik menjelaskan bahwa Kelurahan Purwokinanti menjadi pilot project program renovasi RTLH tersebut. Dari 14 warga yang mengajukan proposal, Rajwan menuturkan bahwa mereka semua merasa terharu dan berterimkasih dengan adanya program tersebut.

"Lokasinya berada di pinggir Sungai Code. Mereka merasa terharu karena wilayah di sana membutuhkan bantuan agar bersih dan aman ketika arus naik, serta penataan kesehatan agar lebih meningkat," ujarnya , pada saat Penyerahan Simbolis Proposal Pembangunan RTLH di Purwokinanti, Sabtu (1/12/2018).

Sementara itu Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti menjelaskan bahwa pihaknya mendukung penuh dan ikut memantau suksesnya renovasi RTLH yang merupakan pilot project tersebut."Ini pilot project pertama. Ini selesai dulu baru nanti bergeser ke lokasi selanjutnya," ucapnya.

Menurutnya permukiman merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan faktor penting dalam meningkatkan mutu kehidupan manusia.

“Pembangunan perkotaan khususnya pada kawasan Kumuh akan senantiasa dilakukan demi mewujudkan kualitas lingkungan, sosial, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Kota Yogyakarta secara menyeluruh” katanya.

Selain itu, Hariyadi memaparkan bahwa indikator kumuh melingkupi 7 hal, yakni rumah, jalan, air minum, drainase, limbah, sampah, proteksi.

"Jadi ketika ada banjir atau kebakaran nantinya mereka bisa menyelamatkan diri karena sudah terbangun unsur proteksinya," ucapnya.

Program Kotaku yang dijalankan Pemkot, lanjutnya, selaras dengan cita-cita Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yakni mewujudkan 100 persen air minum, 0 persen permukiman kumuh, serta 100 persen sanitasi.

"DIY ini, seluruh kabupaten dan kota, masuk dalam STBM yakni Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Salah satu indikatornya adalah sudah tidak ada warga yang BAB di sungai," ujarnya.

Salah satu warga yang rumahnya akan direnovasi, Arung Dirgantara berharap melalui program tersebut kampunnya bisa menjadi lebih baik, khususnya yang ingin paling dirasakan dampaknya adakah perihal sanitasi.

"Tapi selain untuk perbaikan rumah, harapannya ada program lain untuk meningkatkan perekonomian warga di sini. Selama ini kampung ini dikenal dengan kampung kuliner sehingga harapannya bisa mengangkat perekonomian," ujarnya. (Han)