Ribuan jemaat ikut dalam Perayaan Natal yang digelar bersama umat Kristen dan Katolik Kota Yogyakarta di Gedung Wana Bhakti Yasa, Jalan Kenari No 14 Kota Yogyakarta, Sabtu (29/19). 

Sekitar 1500 undangan ikut dalam kegiatan ini, yang diselenggarakan atas kerjasama Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta dan PGI Wilayah Kota Yogyakarta. Perayaan natal 2018 mengambil tema Natal Nasional dari KWI dan PGI “Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita” (1 Korintus 1:30a).

Ketua panitia PGI Wilayah DIY, Pendeta Bambang Sumbodo mengatakan, tema ini melambangkan situasi Indonesia saat ini terutama Yogyakarta. “Bagi kami teme ini sangat tepat dengan situasi dan kondisi dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara”ucapnya.

Selain itu, pada perayaan Natal umat Kristen dan Katolik ini merupakan perayaan perdana yang di inisiasi oleh para pemuda dan pemudi katolik ataupun kristen . perayaan Natal Umat Kristianiyang diawai di Kota Yogyakarta adalah salah satu upaya para pemuda gereja dalam menyuarakan semangat dan pesan peedamaian bagi rakyat Indonesia terutama masyarakat Yogyakarta.

Kegiatan ini sekaligus menyikapi dan menjunjung tindakan intoleransi untuk terus beupaya menjaga keutuhan dan persatuan bangda yang berdasarkan pada Pancasila.

Maka dengan perayaan Natal ini masyarakat diajak untuk kembali membangun dan mewujudkan Yogyakarta sebagai Center Of Java Culture, Center of Exelent, City of Tolerance, multicultural, miniatur Indonesia.

Pendeta Bambang Sumbodo menambahkan, tema “Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita” merupakan ajakan bagi semua bangsa Indoesia sebagai warga kota Yogya, untuk hidup penuh hikmat.

Bambang Sumbodo menambahka, diharapkan hidup dengan penuh hikmat yang bersumber dari Tuhan. “Sebagai warga Kota Yogyakarta diharapkan hidup dengan penuh hikmat yang bersumber dari Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu hidup berdasarkan akal yang sehat, akal berbudi dan akal penuh kebijaksanaan” ungkapnya.

Disamping itu, Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan, banyak hal yang berubah dalam komunikasi antar manusia. Hal ini yang membuat pola komunikasi banyak yang melalui gedget.

“Kita banyak berubah dalam komunikasi dan interaksi. Sehingga dalam Pola komunikasi melalui gedget banyak hal yang kadang-kadang tergagap-gagap, adapun bagian yang harus kita sikapi bersama” ujarnya.

Heroe Poerwadi menambahkan masyarakat lebih bijaksana dalam berinteraksi yang bersifat lisan dan tulisan.

“Interaksi yang bersifat lisan yang tertulis berbeda, kadang kita tidak tau intonasi dalam menyampaikannya, seperti saat ini di tahun politik, masyarakat sering menyangkut pautkan permasaalahan. Seharusnya wajar di bikin tidak wajar ini yang membuat persahabatan seringkali retak yaitu kita dipengauhi oleh media sosial” tambahnya.

Heroe Poerwadi berharap, pertemuan ini diinisiasi oleh pemuda dan nantinya diperluas oleh pemuda. “Harapan saya pertemuan ini diinisiasi oleh pemuda dan nantinya diperluas oleh pemuda sehingga selaras dengan Yogyakarta yang mempunyai sesanti Segoro Amartha dan sekarang dikembangkan lagi dengan Gandeng Gendong yang intinya adalah rembukan bersama, datang bersama-sama, dan inilah yang ingin kita dorong bersama sama untuk Kota Yogyakarta yang rukun dan damai” ungkapnya. (Hes)